Peta dan Kondisi Desa
Desa Aketola secara administratif termasuk dalam wilayah kecamatan Sahu Timur Kabupaten Halmahera Barat Terletak di arah Timur Kabupaten Halmahera Barat dengan jarak kurang lebih 3 Km dari kantor kecamatan. Jarak Desa Aketola dari Kantor Bupati kabupaten Halmahera Barat sekitar 9 Km. Waktu tempuh menuju pusat kota kecamatan sekitar 20 menit, sedangkan waktu tempuh menuju ibukota Kabupaten kira-kira 45 Menit. Dengan batas-batas desa sebagai berikut:
- Sebelah Utara : Desa Tibobo
- Sebelah Selatan : Desa Awer
- Sebelah Barat : Lokasi Desa Loce
- Sebelah Timur : Kali Akelamo
Pembagian wilayah desa
Desa Aketola terdiri dari 2 RT. Luas Wilayah desa Aketola adalah 15 Ha, dengan luas masing-masing RT, RT 01 adalah 6 Ha dan RT 02 adalah 9 Ha.
Topografi dan Jenis Tanah
Desa Aketola secara topografi berupa lembah dengan ketinggian antara 0 s/d 200 m di atas permukaan laut (dpl), sehingga tergolong dataran rendah. Suhu di daerah ini cukup bervariasi antara 20 derajat saat paling dingin dan 35 derajat saat paling panas. Jenis tanah yang ada di wilayah sebagian besar adalah tanah andisol. Sifat tanah andisol adalah bersolum tebal/dalam dan berwarna kuning terang, makin dalam makin terang.
Tekstur liatnya silty loam dengan kadar liat kurang dari 20%. Kepekaan tanah andisol terhadap erosi cukup tinggi, keasamannya bermacam-macam, dan bahan organiknya rendah.
Iklim
Iklim merupakan salah satu faktor yang berpengaruh pada pertumbuhan tanaman. Iklim desa Ngaon termasuk dalam daerah dengan tipe iklim D, dengan nilai Q antara 60% – 100%. Nilai Q adalah perbandingan antara banyaknya bulan basah dibagi dengan bulan kering kali 100%.
Sarana dan Prasarana
Sarana perhubungan Desa Aketola dengan Akelamo sebagai ibukota kecamatan dan Jailolo sebagai ibukota kabupaten dihubungkan dengan jalan darat dengan konstruksi sebagian jalan beraspal, hotmix. Sedangkan dari pusat desa menuju ke seluruh RT dihubungkan oleh jalan yang diperkeras dengan batu atau makadam, jalan makadam ini cukup bagus karena ditata sedemikian rupa sehingga jalan terasa halus. Namun pada beberapa bagian jalan desa belum beraspal.
Keadaan jalan yang sudah beraspal dan adanya mobil angkutan yang masuk mengakibatkan mobilitas dalam kegiatan sehari-hari masyarakat menjadi tinggi, sehingga banyak masyarakat Desa yang melakukan urbanisasi terutama kaum muda. Sebagian besar dari kaum bekerja keluar desa menuju berbagai kota untuk beberapa tahun, setelah itu mereka akan kembali lagi ke desa untuk tinggal menetap.
Bagi masyarakat yang bekerja sebagai pedagang, atau mau bekerja keluar kota merasa sangat terbantu dengan adanya prasarana jalan angkut ini.
Sistem Usaha Tani
Ditinjau dari jenis komoditas yang diusahakan, sistem usaha tani yang ada di desa Aketola dibedakan menjadi Empat, yaitu komoditas pertanian seperti padi ladang, jagung, kacang tanah, dan kasbi. Komoditas kedua adalah kehutanan seperti pala dan kayu binuang. Dan kelompok ketiga adalah komoditas perkebunan seperti kelapa, coklat, durian, rambutan dan cengkeh. Dan kelompok ke empat adalah komonitas hijauan seperti pisang mulu bebe yang menjadi komoniti unggulan. Makanan ternak seperti kaliyandra katela dan rumput gaja. Sedangkan ditinjau dari rotasinya dapat dibedakan menjadi dua yaitu komoditas yang mempunyai rotasi lebih dari satu tahun dan komoditas yang kurang dari satu tahun. Yang dimaksud rotasi disini adalah jangka waktu tanaman tersebut ditanam sampai dengan tanaman tersebut tidak ekonomis lagi diproduksi.
Jenis komoditas kehutanan yang paling banyak ditanam adalah tanaman sengngon, jati dan sebagian benuang. Sedangkan komoditas perkebunan yang paling banyak ditanam adalah kelapa (Cocos nucifera), coklat, kopi, cengkeh, rambutan dan durian. Jenis komoditas kehutanan dan perkebunan ini mempunyai rotasi lebih dari satu tahun.
Jenis komoditas pertanian yang ada di desa Aketola terdiri dari Jagung (Zeimays indurate), padi ladang, pisang mulu bebe, ubi kayu (manihot utilissima), dan sebagian besar adalah tanaman padi, lading dan pisang mulu bebe. Keempat komoditas pertanian tersebut ditanam pada lahan yang sama secara bergiliran sesuai dengan musimnya. Pola pergiliran tanaman ini berlangsung dalam jangka watu satu tahun. Pada umumnya pisang mulu bebe ditanam pada awal musim penghujan (Oktober-November). Namun hal ini berlaku jika lahan yang ada kekurangan air. Untuk lahan mudah dalam mendapatkan air tidak menggunakan pola pergiliran karena setiap tahunnya hanya ditanami dengan padi ladang saja.
Jumlah lahan yang kekurangan air atau biasa disebut tanah kering luasannya selalu meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini terjadi karena tekanan jumlah penduduk, sehingga air yang seharusnya masuk ke ladang lebih banyak digunakan untuk rumah tangga. Hal ini sudah dirasakan oleh penduduk. Dari kondisi seperti inilah sebenarnya keberadaan hutan rakyat mulai berkembang.
